By JA

Showing 10 of 16 Results

Indonesia Perkuat Kemitraan Indonesia-Prancis di Tengah Ketidakpastian Global

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Élysée, Paris (28/05). Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat kontribusi bersama dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan kemajuan di tengah dinamika geopolitik global yang multipolar. Rangkaian agenda diawali dengan penyambutan kenegaraan secara resmi di halaman istana Élsyée. Kedua kepala negara kemudian melakukan pertemuan bilateral membahas agenda strategis, mulai dari penguatan kerja sama pertahanan hingga percepatan penyelesaian perundingan ekonomi. Di sektor pertahanan, kedua pemimpin membahas kelanjutan implementasi kemitraan, termasuk pengadaan jet tempur Rafale serta program alih teknologi (Transfer of Technology) industri pertahanan guna memperkuat kemandirian alutsista nasional. Sementara di bidang ekonomi, fokus utama diarahkan pada akselerasi penyelesaian negosiasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan pembentukan France–Indonesia High Level Business Council yang diharapkan memperkuat hubungan bisnis Indonesia dan Prancis. Dalam pernyataan pers bersama usai pertemuan, Presiden Prabowo menekankan posisi krusial Prancis dan Eropa sebagai mitra global bagi Indonesia. “Indonesia memandang Prancis dan Eropa sebagai kekuatan dunia yang penting, dan kami ingin melihat peran Prancis dan Eropa semakin kuat, semakin kokoh, sehingga kita bisa kerja sama dalam keadaan dunia yang multipolar,” tegas Presiden Prabowo. Selain isu bilateral, Indonesia memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pertukaran pandangan mengenai sejumlah tantangan kawasan dan global. Secara khusus, Indonesia menegaskan kembali posisi konsistennya terkait situasi kemanusiaan di Palestina. Terkait tantangan global tersebut, Prancis menyatakan kesiapannya untuk memperkokoh sinergi dengan Indonesia guna merespons berbagai dinamika internasional demi mewujudkan tatanan dunia yang aman dan stabil. Hal ini mengonfirmasi keselarasan pandangan kedua negara terhadap pentingnya menjaga stabilitas global melalui penguatan kemitraan di semua level. Dari perspektif yang lebih luas, Indonesia memandang Prancis dan Eropa sebagai mitra strategis penting dalam menciptakan tatanan dunia multipolar yang seimbang dan damai. Berbekal komitmen kuat yang ditunjukkan dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo optimistis hubungan bilateral kedua negara akan terus berkembang secara positif.Sumber: kemlu.go.id

Kementerian Kebudayaan Dorong Penguatan Ekosistem Perfilman Nasional Melalui Penyelenggaraan Jakarta World Cinema 2026

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk mendukung penguatan ekosistem perfilman Indonesia, salah satunya melalui penyelenggaraan Jakarta World Cinema (JWC). Dalam pertemuan Menbud dengan perwakilan penyelenggara JWC yang berlangsung di Kantor Kementerian Kebudayaan, dibahas rencana penyelenggaraan JWC 2026, dan upaya pengembangan talenta, perluasan jejaring internasional, serta distribusi industri film.  Penyelenggaraan Jakarta World Cinema tahun ini dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober dengan agenda pemutaran film pemenang, dan pemberian sejumlah penghargaan yang telah ditetapkan. Selain itu juga akan diberikan penghargaan bagi para aktor dan aktris terbaik. Sejumlah sutradara pemenang juga direncanakan hadir untuk berbagi pengalaman melalui sesi masterclass.  Dalam kesempatan tersebut Menbud menyampaikan agar talenta-talenta muda di perfilman Indonesia dapat berkolaborasi dengan para sineas senior. “Kita harap semua orang yang bertalenta di daerah-daerah nantinya bisa dapat kesempatan dan melihat festival besar seperti misalnya Cannes,” sambungnya. Menteri Fadli Zon menyebut bahwa lomba penulisan skenario yang merupakan program Kementerian Kebudayaan, dapat lebih dipasarkan, misalnya melalui film market. Menurutnya skenario terbaik dari lomba tersebut nantinya dapat diberikan matching fund untuk diproduksi menjadi film. Director of Public Affairs JWC, Razka Robby Ertanto, dalam diskusi tersebut menyampaikan  bahwa dalam pengembangan talenta, pihaknya telah menerapkan skema pembinaan berkelanjutan bagi pemenang kompetisi film pendek melalui pengembangan proyek film panjang. Program ini menurutnya tidak berfokus pada hadiah uang tunai, melainkan kesinambungan regenerasi sineas dan pembukaan peluang bagi pendatang baru di industri perfilman nasional. Selain berdialog mengenai JWC, kedua pihak turut berdiskusi mengenai pengembangan industri film di Indonesia. Diantaranya membahas pentingnya roadmap pengembangan skenario menuju produksi, lokakarya lanjutan, serta forum pitching dan investor dinner guna mempertemukan kreator dengan investor potensial. Selain itu juga dibahas skema pembiayaan melalui mekanisme matching fund Dana Indonesiaraya. Melalui skema tersebut, menurut Menbud, pembiayaan produksi film dapat dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah dan industri. Pada bidang kerja sama internasional, Menbud turut menyampaikan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan partisipasi dalam agenda industri film di China, pada 12–23 Juni 2026 mendatang. Kehadiran delegasi Indonesia nantinya akan disertai booth nasional untuk memperkuat identitas dan memberikan gambaran akan perfilman Indonesia di pasar internasional.  Turut hadir dalam pertemuan ini, yakni Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, Muhammad Asrian Mirza; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; serta perwakilan penyelenggara JWC, ⁠⁠Shandy Gasella dan ⁠⁠Hapid Ahmad Royan. Kementerian Kebudayaan menyambut baik upaya memperkuat ekosistem perfilman nasional melalui kerja sama dengan berbagai pihak, terutama para sineas dan pihak swasta. Melalui berbagai agenda di bidang perfilman, mulai dari pengembangan talenta, pembiayaan, distribusi, hingga perluasan jejaring internasional, kedepannya diharapkan dapat meningkatkan daya saing perfilman Indonesia di tingkat global.Sumber: kemenbud.go.id

Wamen Ekraf: Kampus Pusat Inovasi dan Lahirnya Ide Kreatif

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa ekonomi kreatif harus mampu menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang nyata. Salah satu sumbernya disebut Wamen Ekraf adalah dari perguruan tinggi.“Buat saya, ekonomi kreatif itu yang penting mampu menciptakan sesuatu yang memiliki nilai finansial sekaligus memberikan dampak nyata. Kampus dapat menjadi sebuah sandbox untuk langsung bersentuhan dengan real life dan dosen maupun pengajar menjadi mentor bagi anak-anak,” ujar Wamen Ekraf saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Nasional Asosiasi Program Studi Desain Komunikasi Visual Indonesia (Rakornas Asprodi DKV) 2026 di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, Kamis (21/5). Mengusung tema ‘Akselerasi Peran Pendidikan DKV yang Unggul, Berdampak Nyata, dan Berkelanjutan dalam Memperkuat Ekonomi Kreatif Nasional’, forum koordinasi nasional itu mempertemukan ketua prodi DKV, dosen, akademisi, serta pemangku kepentingan industri kreatif dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bersama untuk menyusun langkah strategis dalam pengembangan pendidikan DKV yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif nasional. Wamen Ekraf menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang pengembangan talenta kreatif yang siap menghadapi kebutuhan industri masa depan. Wamen Ekraf juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, kampus, dan industri agar hasil pendidikan kreatif dapat memberikan dampak langsung bagi daerah serta menjadi ruang aktualisasi bagi para kreator muda.“Kita harus benar-benar mengekstraksi potensi kreatif terbaik dari setiap individu dan bergotong royong menghadapi tantangan global. Hal itu harus dimulai dari kampus, karena kampus adalah pusat inovasi dan ruang lahirnya ide-ide paling murni,” jelasnya. Menurut Wamen Ekraf, penguatan pendidikan kreatif berbasis praktik dan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas. Melalui pendekatan tersebut, talenta muda tidak hanya mampu menghasilkan karya estetis, tetapi juga menciptakan solusi kreatif yang memiliki nilai tambah ekonomi. Rektor Universitas Dian Nuswantoro, Pulung Nurtantio Andono, mengatakan perkembangan teknologi membawa masyarakat memasuki era immersive experience, artificial intelligence, virtual interaction, digital twin, hingga meta fresh ecosystem. Karena itu, Udinus memperkenalkan Next Generation Experience Learning Platform bernama Dinusverse. Dinusverse merupakan konsep kampus digital berbasis AI dan ekosistem virtual yang menghadirkan pembelajaran, kreativitas, interaksi, hingga pengalaman perkuliahan secara lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan. “_Next generation experience learning platform_ itu kita bentuk dalam suatu pembelajaran berbasis game. Platform-nya menggunakan Roblox. Kemudian di dalam Udinus First nanti, mahasiswa akan melakukan absensi melalui Roblox yang terhubung dengan kehidupan nyata. Jika mahasiswa memperoleh prestasi, misalnya atlet basket yang menjadi juara satu tingkat nasional, maka emblem juaranya akan menempel di avatarnya,” jelasnya.Ia juga menambahkan bahwa karakter dalam Roblox tersebut dapat menjadi portofolio digital yang nantinya diubah menjadi NFT dan disimpan melalui teknologi blockchain. Selain itu, Udinus juga menjadi kampus pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi blockchain pada ijazah beserta transkrip nilai.Sumber: ekraf.go.id

Ribuan Hektare Sawah Terdampak Bencana Mulai Ditanami Kembali

Upaya pemulihan sawah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga 7 Mei 2026, proses rehabilitasi lahan sawah yang dilakukan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera telah menjangkau ribuan hektare area pertanian yang terdampak bencana. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total target pemulihan sawah terdampak di tiga provinsi mencapai 42.702 hektare dengan dukungan anggaran sebesar Rp337,97 miliar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.670 hektare lahan telah masuk tahap konstruksi pemulihan, sementara 4.098 hektare di antaranya telah selesai direhabilitasi. Tidak hanya itu, sebanyak 2.212 hektare lahan telah kembali diolah dan 2.110 hektare sudah mulai ditanami kembali oleh petani. Progres paling menonjol terlihat di Provinsi Sumatera Barat. Dari target pemulihan seluas 3.902 hektare, sebanyak 3.809 hektare atau 98 persen telah masuk tahap konstruksi dan 2.583 hektare sudah selesai direhabilitasi. Bahkan, lebih dari 2.100 hektare sawah di wilayah tersebut telah kembali ditanami. Di Sumatera Utara, rehabilitasi sawah seluas 5.201 hektare telah memasuki tahap konstruksi. Sedangkan di Aceh proses pemulihan terus dipercepat mengingat luas lahan terdampak menjadi yang terbesar dibanding dua provinsi lainnya, mencapai 31.464 hektare. Sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya kini mulai menunjukkan progres rehabilitasi, termasuk pengerjaan saluran, pembentukan kembali petak sawah, hingga pengolahan lahan. Juru Bicara Satgas PRR Amran mengatakan pemulihan sawah menjadi salah satu prioritas pemerintah karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan di wilayah terdampak. “Pemulihan sawah terdampak terus didorong untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan dan transfer ke daerah di tiga provinsi terdampak,” ujar Amran dalam konferensi pers Satgas PRR di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Menurutnya, percepatan rehabilitasi sawah tidak hanya ditujukan agar lahan kembali produktif, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana, terutama bagi ribuan keluarga petani yang selama ini menggantungkan penghidupan dari sektor pertanian.Sumber: kemendagri.go.id

Kolaborasi Indonesia–Turki, Dorong Penguatan Pendidikan Tinggi, Teknologi, dan Hilirisasi Industri Strategis

Jakarta–Penguatan kolaborasi pendidikan tinggi, sains, teknologi, dan industri strategis, menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan antara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto dengan Duta Besar Republik Turki untuk Indonesia, H.E. Talip Küçükcan di Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Senin (18/5). Mendiktisaintek menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan tinggi Indonesia yang adaptif terhadap tantangan global dan kebutuhan teknologi masa depan. “Kami akan melakukan berbagai penyesuaian yang diperlukan untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi, termasuk pengembangan pusat studi, program riset, pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia maupun Turki, serta penguatan kolaborasi teknologi dan inovasi,” ujar Menteri Brian. Kolaborasi ini diharapkan mendukung transformasi pendidikan tinggi nasional sekaligus memperkuat ekosistem inovasi dan hilirisasi industri nasional melalui semangat Diktisaintek Berdampak. Dalam diskusi, kedua pihak menindaklanjutiMemorandum of Understanding (MoU) kerja sama pendidikan tinggi antara Kemdiktisaintek RI dan Council of Higher Education of Türkiye yang telah ditandatangani pada 12 Februari 2025 di Bogor. Kerja sama mencakup berbagai bidang strategis, antara lain mobilitas mahasiswa dan dosen, riset bersama, pertukaran akademik, pengembangan program joint degree dan double degree, penguatan forum pendidikan tinggi, hingga kolaborasi inovasi dan teknologi. Indonesia dan Turki juga tengah mempersiapkan pelaksanaan Joint Working Group (JWG) bidang pendidikan tinggi sebagai forum lanjutan implementasi kerja sama kedua negara. Dalam forum tersebut, kedua pihak akan membahas pengembangan kolaborasi pada bidang prioritas seperti teknologi pertanian berkelanjutan, teknologi kesehatan dan infrastruktur medis, teknologi pertahanan, hilirisasi sumber daya alam berkelanjutan, manufaktur maju, digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), semikonduktor, energi terbarukan, pengelolaan bencana, serta ilmu dan teknologi kelautan. Selain itu, kedua negara juga membahas peluang pembentukan pusat riset vaksin bersama, pengembangan program pendidikan kedokteran, serta peningkatan jumlah dosen bergelar doktor (PhD) melalui program studi lanjut magister dan doktoral di kampus-kampus Turki. Saat ini tercatat terdapat 431 kerja sama aktif antara perguruan tinggi Indonesia dan Turki dalam bentuk pertukaran mahasiswa, konferensi ilmiah, riset bersama, hingga pengembangan kurikulum dan program akademik. Beberapa perguruan tinggi Indonesia yang aktif menjalin kerja sama dengan universitas di Turki antara lain Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Darussalam Gontor. Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Turki menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis penting bagi Turki, baik dalam pengembangan pendidikan tinggi maupun teknologi masa depan. “Ketika kita berbicara tentang inovasi, pembangunan, dan teknologi, kita membutuhkan lebih banyak dosen bergelar PhD. Kita dapat bekerja sama dalam berbagai prioritas, mulai dari teknologi, kesehatan, hingga ilmu sosial,” ujar Dubes Talip Küçükcan. Delegasi Turki juga memperkenalkan Program Teknofest, festival teknologi dan dirgantara terbesar di Turki yang melibatkan pelajar dan mahasiswa dalam pengembangan inovasi dan teknologi. Program tersebut dinilai sejalan dengan upaya Kemdiktisaintek dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi, sains, dan teknologi yang inovatif, kolaboratif, dan berdampak. Kemdiktisaintek menyambut baik berbagai peluang kolaborasi tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing pendidikan tinggi Indonesia di tingkat global sekaligus mendorong lahirnya riset, inovasi, dan teknologi yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.Sumber: kemdiktisaintek.go.id

Optimalkan Sumber Daya Domestik, Indonesia Tempati Peringkat Kedua Ketahanan Energi Terbaik Dunia

Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merupakan salah satu bidang strategis dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni swasembada energi. Sektor ESDM berperan penting dalam memperkuat ketahanan energi untuk mendukung stabilitas ekonomi dan pertahanan negara. Hal ini disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor, Rabu (29/4). Pada arahannya tersebut, Bahlil menyampaikan prestasi Indonesia yang dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, meski dinamika kondisi geopolitik global saat ini memengaruhi pasokan energi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. “Di tengah (kondisi) geopolitik itu melahirkan ketidakpastian terhadap seluruh pasokan energi global. Dan dunia hampir semua merasakan dampak ini. Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabenenya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi,” ujar Bahlil. Prestasi tersebut berdasarkan laporan Eye on the Market yang dikeluarkan oleh JP Morgan Asset Management. Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia. Indonesia menempati posisi kedua, di bawah Afrika Selatan, namun satu tingkat di atas Tiongkok yang berada di posisi ketiga. Indonesia dianggap sebagai negara yang tahan krisis energi yang terjadi saat ini karena produksi domestik minyak dan gas bumi (migas) yang cukup besar. Ketahanan terhadap krisis juga disebabkan produksi dan cadangan batubara Indonesia yang masih dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu, potensi energi baru dan terbarukan yang besar di seluruh wilayah Indonesia juga mampu menopang kemandirian energi Indonesia. Lebih lanjut Bahlil menyampaikan, dari subsektor migas ketahanan energi didukung oleh pencapaian lifting minyak Indonesia pada 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Tahun ini target ditingkatkan menjadi 610 ribu bph. Untuk meningkatkan produksi lifting, Pemerintah mendorong optimalisasi produksi melalui teknologi lanjutan, reaktivasi sumur idle, dan eksplorasi potensi migas di Indonesia Timur. Temuan terbaru, hasil eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur, mengungkap adanya potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan ENI dan Sinopec. “Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029,” jelasnya. Tak hanya lifting migas, Pemerintah juga terus berupaya untuk mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM), melalui pengembangan Biodiesel 50% (B50), yang ditargetkan akan diimplementasikan secara nasional pada 1 Juli 2026 mendatang. Hal ini akan berdampak signifikan pada pengurangan impor BBM nasional. “Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, Alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak Republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor,” jelas Bahlil. Upaya pengurangan impor juga dilakukan untuk LPG, dengan mencari berbagai substitusi, di antaranya Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG) yang saat ini sedang dikaji Pemerintah. CNG sendiri sudah banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri, seperti perhotelan, restoran, dan sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), yang bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri.Sumber: esdm.go.id