By ASP

5 Results

Kelas Menengah Indonesia: Membaik atau Masih Tertekan?

Dua tahun setelah isu penyusutan kelas menengah mencuat, data terbaru menunjukkan pasar kerja membaik. Namun, itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap kelas menengah telah berakhir. Kelas menengah menjadi salah satu kelompok yang penting dalam perekonomian Indonesia. Mereka bukan hanya konsumen barang dan jasa, tetapi juga menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi perkotaan, pendidikan, perumahan, transportasi, hingga konsumsi rumah tangga. Karena itu, ketika kemampuan kelompok ini tertekan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh rumah tangga, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi. Pada 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelas menengah dan kelompok yang berada di dekat kelas menengah mencapai 66,35 persen populasi Indonesia. Namun, angka tersebut perlu dibaca bersama definisi dan metodologi yang digunakan BPS. Angka kelas menengah tidak sama dengan sekadar membagi masyarakat berdasarkan besar gaji. Dari 2024 ke 2026 pasar kerja menunjukkan perbaikan, ada beberapa indikator yang memungkinkan kita melihat perubahan kondisi ekonomi masyarakat melalui pasar kerja. Pada Agustus 2024, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,91 persen. Rata-rata upah buruh saat itu mencapai Rp3,27 juta per bulan. Pada Februari 2026, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,68 persen, sementara rata-rata upah karyawan tercatat Rp3,29 juta per bulan. Dengan kata lain, pasar kerja menunjukkan perkembangan positif dari sisi tingkat pengangguran. Namun, kenaikan rata-rata upah dalam dua titik waktu tersebut relatif terbatas. Hal ini penting karena kondisi ekonomi rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh apakah seseorang memiliki pekerjaan, tetapi juga oleh seberapa besar pendapatan yang diterima dan bagaimana pendapatan tersebut dibandingkan dengan perubahan harga. Ketika harga ikut bergerak, pada Agustus 2026, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,19 persen. Inflasi tidak berarti seluruh harga barang naik dengan besaran yang sama. Tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa biaya hidup tetap mengalami perubahan. Karena itu, membandingkan nominal upah saja belum cukup untuk menjawab apakah daya beli masyarakat meningkat. Misalnya, seseorang yang mengalami kenaikan pendapatan belum tentu merasa lebih sejahtera apabila biaya kebutuhan pokok, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, atau kebutuhan lainnya meningkat lebih cepat. Di sinilah konsep daya beli menjadi penting. Jadi, apakah kelas menengah sedang membaik? Jawabannya tidak bisa disederhanakan menjadi “ya” atau “tidak”. Data terbaru memang menunjukkan beberapa perkembangan positif di pasar kerja. Pengangguran pada Februari 2026 lebih rendah dibanding Agustus 2024 dan rata-rata upah juga sedikit lebih tinggi. Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa kondisi kelas menengah secara keseluruhan telah pulih. Salah satu alasannya adalah ukuran “kelas menengah” membutuhkan indikator yang lebih luas daripada upah dan pengangguran. Selain pendapatan, kemampuan konsumsi, kondisi pekerjaan, pengeluaran rumah tangga, serta kemampuan menghadapi guncangan ekonomi juga penting. IMF dalam kajiannya mengenai dinamika pendapatan Indonesia menyebut kelas menengah masih relatif kecil dan rentan terhadap melemahnya daya beli serta dinamika pasar tenaga kerja. Namun, kajian tersebut terutama menggunakan data hingga 2024 sehingga tidak tepat diperlakukan sebagai ukuran langsung kondisi kelas menengah pada 2026. Yang berubah bukan hanya angkanya, perdebatan mengenai kelas menengah sering kali berhenti pada satu pertanyaan “Berapa jumlah kelas menengah Indonesia?” Padahal, pertanyaan lain tidak kalah penting, Seberapa aman posisi ekonomi mereka? Seseorang bisa saja berada di atas batas tertentu secara pendapatan, tetapi tetap rentan ketika menghadapi kehilangan pekerjaan, kenaikan biaya kesehatan, biaya pendidikan, cicilan, atau kebutuhan tempat tinggal. Karena itu, melihat kelas menengah Indonesia membutuhkan lebih dari satu angka.a Data pasar kerja memberi gambaran tentang pekerjaan dan pendapatan. Data inflasi membantu melihat perubahan harga. Data konsumsi membantu membaca pola pengeluaran. Sementara data distribusi pengeluaran membantu memahami posisi rumah tangga dalam struktur ekonomi secara lebih luas. Dua tahun setelah isu penyusutan kelas menengah, data terbaru belum memberi alasan untuk menyimpulkan bahwa persoalan kelas menengah telah selesai. Namun, data juga menunjukkan bahwa tidak semua indikator bergerak ke arah yang sama. Pengangguran turun, upah meningkat, harga juga berubah. Di sinilah gambaran kelas menengah menjadi lebih kompleks. Daripada mencari satu angka yang menentukan apakah kelas menengah “aman” atau “tertekan”, lebih penting melihat bagaimana pendapatan, pekerjaan, harga, dan pengeluaran bergerak secara bersamaan. Karena pada akhirnya, ukuran kesejahteraan bukan hanya berapa besar pendapatan yang diterima. Tetapi juga berapa banyak kebutuhan yang masih bisa dipenuhi dari pendapatan tersebut.

Reshuffle Kabinet: Presiden Prabowo Resmi Lantik Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan Baru Gantikan Purbaya

JAKARTA — Dinamika politik ekonomi Indonesia kembali mengalami perubahan signifikan. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu) yang baru di Kabinet Merah Putih. Prosesi pelantikan berlangsung dengan khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Senin sore (14/9/2026). Langkah strategis ini diambil melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 97/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih untuk sisa masa jabatan periode 2024–2029. Suahasil Nazara resmi menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya memegang kendali atas kementerian bendahara negara tersebut. Dalam prosesi yang dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Suahasil mengucapkan sumpah jabatannya langsung di bawah bimbingan Presiden Prabowo. Usai prosesi pelantikan, Suahasil mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan mandat yang sangat tegas kepadanya. Arahan utama dari Kepala Negara adalah untuk terus membentengi kekuatan fiskal dalam negeri di tengah ketidakpastian ekonomi global. Instruksi spesifik dari Presiden adalah menjaga keuangan negara. “Artinya, kita harus memelihara kesehatan dan kredibilitas anggaran”, ucap Suahasil kepada awak media di lingkungan Istana Kepresidenan. Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus tetap menjadi jangkar utama yang dipercaya publik serta pelaku pasar untuk menopang program-program prioritas pemerintah. Sebagai nakhoda baru di Lapangan Banteng (Markas Kemenkeu), Suahasil Nazara langsung memaparkan target-target jangka pendek maupun jangka panjang fiskal Indonesia. Salah satu fokus yang paling krusial adalah komitmennya untuk mempertahankan disiplin anggaran. Ia menegaskan bahwa defisit anggaran akan tetap dijaga di bawah batas aman statutory 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagai catatan, proyeksi defisit APBN hingga akhir tahun 2026 diperkirakan mendekati 2,85% dari PDB demi menjaga stimulus ekonomi nasional. Suahasil juga langsung dihadapkan pada tugas besar untuk merancang serta mengimplementasikan APBN 2027, yang memiliki target pertumbuhan ekonomi yang cukup ambisius, yakni sebesar 6%. Selain masalah defisit fiskal, Suahasil menyoroti pentingnya efisiensi belanja negara. Namun, ia meluruskan persepsi keliru yang sering muncul di publik terkait istilah “efisiensi”. Efisiensi belanja itu bukan berarti sekadar melakukan pemotongan anggaran, tegas Suahasil. “Efisiensi berarti bagaimana kita mengoptimalkan setiap rupiah anggaran yang ada untuk menghasilkan output maksimal yang manfaatnya bisa dirasakan langsung secara nyata oleh masyarakat luas”. Langkah penunjukan kilat ini sempat mengejutkan ruang publik. Pasalnya, beberapa jam sebelum pengumuman resmi dari Istana Negara, Purbaya Yudhi Sadewa diketahui masih memimpin rapat kerja resmi bersama Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di Senayan untuk memaparkan stabilitas makroekonomi nasional. Pencopotan yang terjadi tak lama setelah Purbaya menerima panggilan telepon misterius tersebut langsung memicu perhatian publik terhadap arah komando ekonomi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo. Kendati pasar keuangan merespons transisi ini secara positif berkat reputasi panjang Suahasil, sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan adanya tantangan besar yang telah menanti di depan mata. Ekonom dan pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat, menilai bahwa rekam jejak panjang Suahasil sebagai orang dalam Kemenkeu bertindak bagai pisau bermata dua. Di satu sisi ia membawa stabilitas birokrasi, namun di sisi lain publik menuntut reformasi fiskal yang lebih berani daripada sekadar mempertahankan status quo kebijakan lama. “Tantangan terbesar Menkeu baru bukan sekadar menekan angka defisit di atas kertas. Keberhasilan kebijakan fiskal ke depan akan diuji dari bagaimana ia mampu mengelola anggaran tanpa harus memotong subsidi secara membabi buta, menahan dana transfer ke daerah, atau justru menambah beban kelompok masyarakat kelas menengah,” pungkas Achmad. Kini, seluruh mata pelaku ekonomi tertuju pada Lapangan Banteng untuk melihat bagaimana sang teknokrat senior ini meramu strategi baru demi mendongkrak target pertumbuhan ekonomi nasional.

Mengenal Waduk Brigif, Ruang Air yang Punya Peran Penting bagi Jakarta Selatan

JAKARTA SELATAN — Bagi sebagian warga Jakarta Selatan, Waduk Brigif mungkin dikenal sebagai ruang terbuka untuk beraktivitas dan melepas penat. Namun, di balik kawasan yang dapat dinikmati masyarakat tersebut, waduk memiliki fungsi yang lebih penting dalam pengelolaan lingkungan perkotaan, terutama berkaitan dengan air. Waduk Brigif berada di kawasan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kehadirannya menjadi bagian dari infrastruktur pengelolaan air di wilayah ibu kota yang menghadapi persoalan limpasan air hujan dan banjir, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Secara sederhana, waduk dapat dipahami sebagai tempat untuk menampung air. Ketika hujan turun, tidak seluruh air langsung mengalir ke sungai atau saluran drainase. Sebagian air dapat ditampung terlebih dahulu sehingga aliran air dapat dikelola dengan lebih baik. Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta, fungsi tersebut menjadi penting karena permukaan tanah yang tertutup bangunan, jalan, dan beton membuat air hujan lebih sulit meresap secara alami. Karena itu, keberadaan waduk bukan berarti persoalan banjir dapat diselesaikan hanya dengan satu infrastruktur. Pengendalian banjir membutuhkan sistem yang saling terhubung, mulai dari saluran drainase, sungai, waduk, ruang terbuka hijau, hingga kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Selain fungsi pengelolaan air, kawasan Waduk Brigif juga memberikan ruang bagi masyarakat. Ruang terbuka seperti ini memiliki manfaat sosial karena dapat menjadi tempat warga berjalan kaki, berolahraga, berkumpul, maupun menikmati suasana luar ruang tanpa harus meninggalkan kawasan perkotaan. Bagi masyarakat yang berkunjung, menjaga kebersihan menjadi hal sederhana tetapi penting. Sampah yang dibuang sembarangan dapat masuk ke saluran air dan berpotensi menghambat aliran. Karena itu, menjaga kebersihan kawasan waduk bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga berkaitan dengan fungsi lingkungan. Pengelolaan kawasan secara berkelanjutan juga membutuhkan perhatian terhadap fasilitas publik, vegetasi, kualitas air, dan kondisi lingkungan di sekitar waduk. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan infrastruktur, sementara masyarakat dapat berkontribusi melalui perilaku sehari-hari. Waduk Brigif pada akhirnya memperlihatkan bahwa ruang air di Jakarta memiliki fungsi yang lebih luas daripada yang terlihat. Ia menjadi bagian dari upaya mengelola air sekaligus menyediakan ruang terbuka bagi warga. Di tengah pertumbuhan Jakarta Selatan, memahami fungsi waduk menjadi penting agar masyarakat tidak hanya melihatnya sebagai tempat rekreasi, tetapi juga memahami perannya dalam menjaga keseimbangan lingkungan perkotaan.

Taman Margasatwa Ragunan Masih Menjadi Pilihan Wisata Keluarga di Jakarta

Jakarta – Taman Margasatwa Ragunan menjadi salah satu destinasi rekreasi yang banyak dikenal masyarakat Jakarta. Berlokasi di Kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, taman marasatwa ini menawarkan kegiatan wisata sekaligus edukasi melalui keberadaan berbagai koleksi satwa dan Kawasan ruang terbuka yang luas. Taman Margasatwa Ragunan memiliki berbagai jenis satwa yang menjadi daya tarik bagi pengunjung. Keberadaan koleksi satwa tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat beragam hewan serta mengetaui pentingnya menjaga kelestarian satwa dan lingkungan. Bagi masyarakat perkotaan, Ragunan juga menjadi salah satu pilihan untuk menikmati suasana ruang terbuka. Kawasan yang dipenuhi pepohonan dan area hijau memberikan suasana yang berbeda dari lingkungan perkotaan yang identik dengan kepadatan kendaraan dan aktivitas masyarakat. Kunjungan ke Ragunan tidak hanya menawarkan kegiatan melihat satwa. Masyarakat dapat memanfaatkan kunjungan tersebut sebagai sarana rekreasi bersama keluarga. Anak-anak juga dapat memperoleh pengalaman belajar di luar ruang dengan mengamati berbagai jenis satwa secara langsung. Selain sebagai tempat wisata, Taman Margasatwa Ragunan memiliki fungsi edukatif dalam mengenalkan masyarakat terhadap kehidupan satwa. Informasi mengenai satwa yang tersedia di kawasan tersebut dapat membantu pengunjung memahami karakteristik dan keberadaan berbagai jenis hewan. Suasana kawasan yang luas membuat pengunjung dapat melakukan berbagai aktivitas selama berada di Ragunan. Kegiatan seperti berjalan-jalan, mengamati satwa, hingga menikmati waktu bersama keluarga menjadi bagian dari aktivitas wisata yang dapat dilakukan di kawasan tersebut. Keberadaan Taman Margasatwa Ragunan juga menunjukkan pentingnya ruang terbuka bagi masyarakat di tengah perkembangan Kota Jakarta. Tempat rekreasi yang memiliki unsur edukasi dan lingkungan dapat menjadi salah satu fasilitas yang mendukung kebutuhan masyarakat untuk berwisata sekaligus memperoleh pengetahuan. Dengan menggabungkan unsur rekreasi, edukasi, dan pengenalan terhadap satwa, Taman Margasatwa Ragunan tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat dari berbagai kalangan. Ragunan menjadi salah satu tempat yang dapat memberikan pengalaman wisata sekaligus menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga satwa dan lingkungan. Taman Margasatwa Ragunan pun terus dikenal sebagai salah satu tujuan wisata keluarga di Jakarta. Bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu di ruang terbuka sambil mengenal berbagai jenis satwa, kawasan ini menjadi salah satu pilihan yang dapat dikunjungi.

Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Chromebook, Satu Hakim Dissenting

Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan pidana 10 tahun penjara kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi periode 2019-2024, Nadiem Anwar Makarim, dalam perkara korupsi pengadaan Chromebook, Selasa (30/6). Ketua Majelis Hakim Purwanto S. Abdullah menyatakan Nadiem tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan primer. Namun, majelis hakim menilai Nadiem terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana didakwakan dalam dakwaan subsider. “Menyatakan terdakwa Nadiem Anwar Makarim tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan primer. Membebaskan terdakwa oleh karena itu dari dakwaan primer tersebut,” ujar Purwanto saat membacakan amar putusan. Dalam putusannya, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 10 tahun serta pidana denda sebesar Rp1 miliar. Denda tersebut wajib dibayar dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap dan dapat diperpanjang paling lama satu bulan. Apabila tidak dibayar, harta kekayaan atau pendapatan terpidana dapat disita dan dilelang. Jika hasil penyitaan tidak mencukupi, denda tersebut diganti dengan pidana penjara selama 190 hari. Selain pidana pokok, majelis hakim juga menjatuhkan pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti sebesar Rp809.597.125.000. Jika dalam waktu satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap uang pengganti tersebut tidak dibayarkan, jaksa dapat menyita dan melelang harta benda terpidana untuk menutupi kerugian negara. Apabila harta yang dimiliki tidak mencukupi, Nadiem diwajibkan menjalani pidana penjara pengganti selama lima tahun. Majelis hakim juga menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Sementara itu, masa penahanan rumah yang dijalani sejak 12 Mei 2026 diperhitungkan sepertiga sesuai ketentuan perundang-undangan. Nadiem juga diperintahkan tetap berada dalam tahanan. Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai sikap kooperatif Nadiem selama proses persidangan menjadi keadaan yang meringankan. Terdakwa dinilai selalu hadir dalam persidangan dan tidak pernah berupaya melarikan diri. Namun, majelis juga menilai terdapat sejumlah keadaan yang memberatkan. Hakim menyebut Nadiem tetap menyangkal adanya konflik kepentingan dalam proyek pengadaan Chromebook, tidak menunjukkan penyesalan, serta tidak mengembalikan kerugian negara secara sukarela meskipun dinilai memiliki kemampuan ekonomi untuk melakukannya. “Secara umum sikap sesudah perbuatan ini lebih merupakan keadaan yang memberatkan,” kata hakim. Adapun putusan tersebut tidak diambil secara bulat. Salah satu hakim anggota, Andi Saputra, menyampaikan dissenting opinion atau pendapat berbeda. Dalam pendapatnya, Andi menilai tidak terdapat peran langsung maupun niat jahat (mens rea) dari terdakwa dalam perkara tersebut. Menanggapi putusan tersebut, Nadiem Makarim menyatakan kekecewaannya dan menilai majelis hakim mengabaikan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan. “Hari ini kita menanyakan pertanyaan sangat besar kepada sistem hukum kita. Kita menanyakan apakah kebenaran, apakah keadilan masih ada artinya. Dan hari ini terjawab, semua fakta-fakta pengadilan diabaikan,” kata Nadiem usai sidang putusan. “Saya divonis 10 tahun plus 5 tahun, jadinya 15 tahun,” tambahnya. Nadiem juga mempertanyakan keyakinan mayoritas hakim yang menyatakan dirinya bersalah. Menurut dia, pertimbangan hukum yang dibacakan majelis tidak sejalan dengan fakta yang muncul selama proses persidangan. Selain itu, ia secara khusus mengapresiasi pendapat berbeda (dissenting opinion) yang disampaikan Hakim Anggota Andi Saputra. Menurut Nadiem, dissenting opinion tersebut mencerminkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan. “Tetapi kebenaran keluar dari satu hakim yang punya keberanian untuk mengutarakan apa yang sebenarnya menjadi fakta-fakta persidangan. Ada satu dissenting opinion, Hakim Andi, yang telah membeberkan kebenaran secara lugas dan menyebut saya harus bebas tanpa syarat,” ujar Nadiem. Meski dibebaskan dari dakwaan primer, majelis hakim menyatakan Nadiem terbukti bersalah melanggar Pasal 604 juncto Pasal 18 UU No 31 tahun 1999 Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 20 huruf c UU No 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Vonis yang dijatuhkan majelis hakim tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Agung. Sebelumnya, jaksa menuntut Nadiem dengan pidana penjara selama 18 tahun, denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan, serta pidana tambahan sesuai kerugian negara yang ditimbulkan dalam perkara pengadaan Chromebook.Sumber: hukumonline.com